Site icon The Jakarta Times

Pengakuan Pembunuh Terapis Bekasi: Piting Korban dan Bunuh Diri

Pengakuan Pembunuh Terapis Bekasi: Piting Korban

Pengakuan Pembunuh Terapis Bekasi: Piting Korban dan Bunuh Diri

Kasus pembunuhan terapis spa di Kota Bekasi, Jawa Barat, mengejutkan publik. Polisi berhasil mengungkap berbagai fakta dari pengakuan sicbo pelaku yang kini ditangkap. Kronologi peristiwa ini sekaligus mengungkap motif serta upaya pelaku yang sempat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri setelah membunuh korban. Berikut ringkasan informasi terpercaya yang dirangkum secara faktual untuk pembaca.

Penemuan Mayat dan Identitas Korban

Pada Rabu, 7 Januari 2026, sesosok mayat terapis spa berinisial SM (23 tahun) ditemukan di dalam kamar kos bakarat online di kawasan Kayuringin Jaya, Kota Bekasi. Jasad korban ditemukan oleh kerabat setelah tidak bisa dihubungi oleh keluarga. Polisi segera melakukan olah tempat kejadian perkara untuk menyelidiki penyebab kematian korban.

Pelaku Ternyata Suami Siri Korban

Dari hasil penyelidikan, polisi mengidentifikasi pelaku sebagai Ahmad Riansah alias Delon, suami siri dari korban. Polisi menangkap pelaku pada Minggu, 11 Januari 2026 di Kabupaten Lebak, Banten, saat berada di depan rumah orang tuanya. Saat ditangkap, ia tidak melakukan perlawanan dan langsung digiring ke Mapolda Metro Jaya untuk pemeriksaan lanjutan.

Keterangan penyidik menyatakan bahwa pelaku dan korban tinggal bersama di kos yang sama, tetapi hubungan mereka sering tegang dan penuh konflik. Motif awal kejadian diduga kuat berakar dari pertengkaran rumah tangga yang memuncak pada hari terjadinya pembunuhan.

Pengakuan Pelaku: Piting dan Menghabisi Nyawa Korban

Dalam pemeriksaan awal, pelaku mengaku secara langsung memiting leher korban hingga tewas. Ia menjelaskan bahwa setelah melakukan tindakan tersebut, ia sempat berada di samping jasad korban selama kurang lebih 30 menit sebelum pergi dari lokasi.

Pernyataan ini menambah gambaran bahwa tindakan kekerasan dilakukan dengan sengaja, bukan sebagai akibat dari situasi tidak terduga semata. Fakta ini juga menjadi dasar kuat bagi penyidik untuk menerapkan pasal berlapis dalam proses hukum yang akan dijalankan terhadap pelaku.

Upaya Bunuh Diri yang Gagal

Usai membunuh korban, pelaku tidak langsung melarikan diri. Ia berupaya mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian. Polisi menemukan bekas cairan pembersih serta muntahan di dekat jasad korban, yang menurut penyidik merupakan sisa upaya pelaku minum cairan berbahaya untuk bunuh diri. Namun, ia gagal dan kemudian meninggalkan lokasi menuju kampung halamannya.

Dalam pengakuannya, pelaku mengatakan bahwa ia keluar dari kamar kos untuk membeli cairan pembersih dengan niat mengakhiri hidupnya setelah melakukan pembunuhan. Keputusannya untuk kembali ke kos setelah mencoba bunuh diri menunjukkan kegagalan tindakan tersebut.

Aksi Menguras Rekening Korban

Tak hanya menghabisi nyawa korban, pelaku juga memindahkan uang dari rekening korban ke rekening pribadinya. Ia mengakui transfer tersebut kepada penyidik sebagai bagian dari tindakannya setelah kejadian pembunuhan. Hal ini menunjukkan motif ekonomi selain konflik pribadi yang terjadi antara pelaku dan korban.

Proses Hukum dan Penegakan

Penyidik Polda Metro Jaya kini tengah mendalami berbagai aspek kasus ini, termasuk motif lebih lanjut dan kemungkinan keterlibatan unsur lain. Pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka utama dan akan menghadapi proses hukum sesuai ketentuan. Aparat berjanji menjalankan proses ini secara teliti untuk memastikan keadilan bagi korban dan keluarga.

Refleksi Sosial dan Pencegahan Kekerasan

Kasus tragis ini mengingatkan kita bahwa konflik rumah tangga dan ketidakmampuan mengelola emosi dapat berujung pada tindakan fatal. Selain itu, isu kesehatan mental juga menjadi sorotan penting. Pelaku yang mencoba bunuh diri menunjukkan kompleksitas psikologis yang sering terlupakan setelah tragedi terjadi.

Bila Anda atau orang di sekitar merasakan tekanan emosional yang berat atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk mencari bantuan profesional—melibatkan psikolog, konselor, atau layanan kesehatan mental dapat memberikan dukungan yang diperlukan jauh sebelum kondisi memburuk.

Exit mobile version