Home » EKONOMI » Pengembang Minta Komitmen Pemerintah Soal Proyek Listrik 35.000 MW

Pengembang Minta Komitmen Pemerintah Soal Proyek Listrik 35.000 MW

 

1

Menteri ESDM Sudirman Said memberikan salam kepada pengembang dalam pertemuan Menteri ESDM bersama jajaran Direksi PLN dan para pengembang listrik swasta di Jakarta, Kamis (3/3/2016). Dalam pertemuan tersebut para pengenbang swasta mendesak komitmen pemerintah untuk melanjutkan pengerjaan proyek 35.000 MW.

Jakarta – Pemerintah Jokowi – JK menegaskan bahwa proyek program 35.000 MW akan terus berjalan, bahkan pemerintah menargetkan proyek ini harus dapat terealisasi dalam waktu 5 tahun. Tujuan dari diadakannya proyek ini tak lain adalah untuk menyelesaikan permasalah kekurangan listrik yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia. Untuk dapat mencapai program ini tentu dibutuhkan kerja keras yang luar biasa, serta konsolidasi yang baik antara setiap pihak yang berkepentingan.

Dalam program listrik nasional ini, selain penggunaan energy fosil (diesel, batubara, dan gas), dalam bahan bakar pembangkit listrik, juga Energi baru dan terbarukan (EBT) seperti angin, tenanga surya, panas bumi, dan air. Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan EBT.

Dalam UU Nomor 30/2007 mewajibkan pemerintah meningkatkan pemanfaatan EBT, menjamin adanya diversifikasi energi, serta bertanggung jawab melakukan konservasi energi. Selain itu, sesuai target yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, hingga 2025 porsi EBT dalam bauran energi nasional adalah paling sedikit 23% dan hingga 2050 paling sedikit adalah 31%.

Komisaris Utama PT Pat Petulai Energi, Donny Gouw mengatakan Indonesia memiliki potensi EBT dalam jumlah sangat besar, salah satu potensi besar yang ada yakni air, diyakini mampu mendorong percepatan proyek listrik raksasa ini.

“ Indonesia mempunyai potensi EBT yang sangat besar, salah satu potensi besar dan sudah banyak dibangun di dalam negeri adalah menggunakan energi air. Banyak keuntungan yang didapatkan dari pemanfaatan air, pertama, PLTA itu usianya bisa sangat panjang antara 50- 100 tahun, kapasitas daya keluaran PLTA relatif besar, kemudian teknologinya bisa dikuasai dengan baik oleh Indonesia, dan yang tidak kalah penting juga adalah bebas emisi karbon,” ujar Donny menjelaskan.

Terkait dengan pengadaan proyek listrik 35.000 MW ini, Donny mengatakan masih ada beberapa masalah mengganjal yang membuat pembangunan menjadi terhambat. Salah satu nya adalah banyaknya peraturan yang bisa ditafsirkan berbeda- beda, dan juga adanya bentrok kepentingan antara pengembang, pemerintah dan PLN.

Memang pada awalnya para investor lebih tertarik untuk terus berinvestasi pada energy fossil karena biaya investasi awal yang relative lebih rendah dibandingkan dengan EBT, apalagi untuk EBT dengan skala kecil. Untuk menarik minat investor, pemerintah terus membuat solusi dan mengeluarkan aturan-aturan baru agar dapat menguntungkan semua pihak, baik itu PLN maupun investor atau pihak pengembang.

Salah satu Peraturan Menteri yaitu Peraturan Menteri No.19 tahun 2015 mengenai Pembelian Tenaga Listrik Dari Pembangkit Listrik Tenaga Air Dengan Kapasitas Sampai Dengan 10 MW (Sepuluh Megawatt) oleh PT Perusahaan Listrik Negara, harga jual listrik dari IPP kepada PLN untuk tahun 1-8 adalah US$ 12 cent dan US$ 7,5 cent untuk tahun selanjutnya sampai dengan tahun ke 20.

PLN sebagai eksekutor sampai dengan saat ini belum dapat mengeluarkan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dengan alasan belum adanya kejelasan subsidi dari Pemerintah, karena harga beli tersebut masih di atas dari harga jual mereka. Ditambah hal itu juga berdampak pada semakin berbelit-belit nya pengurusan awal syarat-syarat sebagai pengembang di PLN Wilayah.

Menyikapi hal ini, Direktur PT Klaai Dendan Lestari, Yogi Adhi Satria, MBA memaparkan, pengembang/ IPP masih memiliki ketertarikan untuk ikut berinvestasi dalam proyek listrik ini, akan tetapi ia melihat posisi pengembang terkesan “digantungkan” walaupun mereka telah mengeluarkan banyak dana untuk pengembangan.

“Di sisi lain, pengembang tertarik untuk ikut berinvestasi untuk pembangkit EBT terutama PLTM itu karena harga beli yang dicantumkan dalam Permen Nomor  19 tahun 2015 tersebut. Namun, saat ini pengembang ada dalam posisi digantungkan. Padahal, sudah mengeluarkan investasi awal dalam jumlah besar untuk kepentingan study, mengurus perizinan, dan akuisisi lahan,” ujar Yogi.

Lebih lanjut, Yogi memandang, jika keadaan terus menerus seperti ini, maka akan menimbulkan kerugian bagi pengembang, dan tentu juga akan memperlambat program pemerintah yang ditargetkan rampung dalam 5 tahun kedepan.

“Tanpa adanya solusi dari pemerintah, hal ini tentu membawa dampak kerugian bagi pengembang, selain itu juga pasti berdampak buruk bagi pemerintah sendiri. Mega proyek ini berjalan lambat, padahal kita mengejar supaya proyek listrik ini bisa selesai sebelum periode pemerintahan Jokowi- JK berakhir,” imbuhnya.

Sementara Sekjen Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (APPLTA), M. Assegaf, menyampaikan, saat ini para pengembang bersama dengan asosiasi yang salah satunya adalah APPLTA telah melakukan diskusi dengan DPR RI, PLN, EBTKE, guna mencari solusi untuk masalah ini, namun belum menemukan titik terang hingga saat ini.

“Para pengembang bersama dengan APPLTA sudah mencoba mengkomunikasikan dengan PLN, EBTKE, bahkan juga ke Komisi VII DPR guna mencari solusi dan kesepakatan dari pengadaan proyek listrik ini, tapi hasilnya belum ada kepastian apapun yang kami dapat. Permasalahan belum terlaksananya Permen 19/2015 menandakan masih adanya permasalahan di level pengambil kebijakan Pemerintah yang belum tuntas. Dengan demikian, kami sebagai pengembang swasta dan juga para investor jadi meragukan komitmen pemerintah terkait realisasi program ini,” pungkasnya. *(Thejakartatimes/EOS)

 

Pengembang Minta Komitmen Pemerintah Soal Proyek Listrik 35.000 MW Reviewed by on .   [caption id="attachment_14100" align="alignnone" width="600"] Menteri ESDM Sudirman Said memberikan salam kepada pengembang dalam pertemuan Menteri ESDM   [caption id="attachment_14100" align="alignnone" width="600"] Menteri ESDM Sudirman Said memberikan salam kepada pengembang dalam pertemuan Menteri ESDM Rating: 0
scroll to top