Home » Featured » Mengapa Nietzsche menulis ‘God is dead?’

Mengapa Nietzsche menulis ‘God is dead?’

Nietzsche berkata, “Tuhan telah mati”. Ini sebuah metafor. Dari Nietzsche, filosof abad 19. Dari pergulatan Nietzsche tahun 1888. Dia menuliskan tentang “Twilight of the Idols and Anti Christ”. Sang Nietzsche menukiskan keberangannya pada filsafat. Dia tegas berkata, filsafat itu melahirkan berhala. Nietzsche juga menampik Socrates. Pelopor cara berpikir rasio dari era Yunani Kuno. “Saya coba memahami dari keganjilan apa maka Socrates menyamakan akal=kebajikan=kebahagiaan: persamaan paling aneh dari persamaan yang ditentang oleh semua insting Yunani,” tukasnya.

Dari Nietzsche kita mendapati ketegasan. Filsafat tak merujuk manusia pada Tuhan. Karena Nietzsche mengutuk cara berpikir filsafat, yang hanya berpatokan pada inderawi semata. “Itulah dusta,” ujarnya. Bahwa umat manusia, kata Nietzsche, diwajibkan percaya pada khayalan-khayalan otak sakit para pemintal jaring laba-laba yang tak sehat itu. Nietzsche menohok para filsuf.

Amarah Nietzsche yang melahirkan fatwa, “Tuhan telah mati.” Ini buah cara berpikir rasio ala manusia. Yang diproduksi sejak masa rennaisance. Fase setelah masa ‘mu’tazilah dari belantara Islam. Karena dari hegemoni rasio yang melanda Eropa abad pertengahan, melahirkan modernisme. Inilah tatkala filsafat menjadi sistem acuan. Dari sana positif law dilahirkan. Kapitalisme dilegalisasi. Hingga humanisme, bentuk rumusan baru tentang manusia. Karena Tuhan telah didefenisikan ulang. Masa modern inilah bentuk krisis karena manusia jamak meninggalkan Tuhan. Dan, inilah masalah serius manusia modern. Aqidah.

Martin Heidegger, filosof Jerman abad 20 juga senada. Dia berkata, “Filsafat tak bisa dijadikan ajang untuk menemukan kebenaran,” tegasnya. Heidegger menegaskan tentang essensialisme, yang dihasilkan filsafat. Karena kebenaran, kata Heideger, telah terpisahkan dari aslinya. Heidegger mengedepankan lagi tentang eksistensialisme sebagai wujud kebenaran. Karena logika, kata Heidegger, bisa dibuat memadai atau tidak memadai. Jadi, logos atau logika, bisa berkembang liar tak terkendali. Inilah yang dikhawatirkan Imam Ghazali terhadap kaum mu’tazilah yang mengedepankan logos dalam melihat Islam. Tapi Ibnu Rusyd membantah, hal itu tak perlu dirisaukan. Karena masa itu filsafat dibentengi syariat.

Maka, kaum mu’tazilah bisa mengenali Allah dengan logika. Tapi di masa rennaisance sampai modern, filsafat berkembang liar tak terkendali. Hingga mengeliminasi kebenaran Tuhan.

Shaykh Abdalqadir as sufi menggambarkan, bagi manusia modern, ketika disebut burung-burung merupakan ciptaan Allah, maka mereka masih percaya. Tapi tatkala disebut boeing merupakan ciptaan Allah, maka mereka kesulitan memikirkannya. Inilah buah cara berpikir rasionalitas. Dan, tentu ini berdampak besar pada masalah aqidah. Sementara pondasi Islam ialah aqidah. Aqidah itulah bentuk Iman. Para ulama menggarisbawahi, aqidah itulah tentang wujud. Wujud tentang Allah dalam setiap lini kehidupan. Modernisme merontokkan hal wujud itu, dengan rasio manusia.

Shaykh Abdalqadir as sufi menjelaskan juga, dulu filsafat digunakan untuk memikirkan suatu benda (kosmosentris). Tapi kemudian beranjak digunakan untuk merasionalisasi bagaimana umat manusia harus di atur. Merasionalisasi kekuasaan. Sejak itulah pembahasan tentang ‘state’ menjadi menggurita.

Masa inilah yang berlangsung sejak aufklarung di Eropa. Kemunculan Francis Bacon dengan “Aku Ada maka Aku Bepikir” mulai mendesain ulang keberadaan Tuhan dan manusia. Tuhan dianggap hanya sebatas pembuat jam belaka. Tatkala jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya. Muncul pendapat lain, akrobatik lainnya, Descartes. Cogito ergo sum. Manusia menjadi subjek yang mengamati. Bukan objek yang diamati. Ini merubah tatanan cara berpikir manusia sebelumnya. Di tambah teori Kant yang mengempiris-kan setiap hal agar layak dinyatakan sebagai ‘benar’. Alhasil serapan inderawi menjadi objek utama untuk menyaring segala sesuatunya (being). Inderawi menjadi titik kunci keberadaan pendapat, yang sejatinya berasal dari nafs manusia.

Shaykh Abdalqadir as sufi menggambarkan, beradalah diantara orang-orang beriman dan jangan berada diantara orang ‘jahil’. Karena orang jahil, ialah yang mengedepankan nafs-nya ketimbang qalbu. Tatkala nafs berhasil mengendalikan qalbu, disitulah jahil berada. Nafs itulah kendaraan setan laknatullah, seperti Hadist Rasulullah Shallahuallaihi wassalam. Dan frasa jahil itu berarti tatkala mengedepankan inderawi sebagai serapan untuk melihat segala sesuatunya. Inilah bentuk penyimpangan dari fitrah. Karena parameter filsafat mengedepankan inderawi semata. bukan batiniah, yang merupakan fitrah manusia.

Dampak terbesar dari penggunaan rasio sebagai urusan terdepan, ialah bergesernya aqidah. Karena ulama menggariskan aqidah sebagai iman. Dan aqidah itulah ‘wujud’ sebagai dasar utama. Wujud berarti kehadiran Allah Subhanahuwataala dalam setiap sebab. Bukan akibat. Tapi frasa ini bukan bermakna alirah ‘jabbariyah’. Ataupun tassawuf aliran qaddariyah, yang kebalikan dari ‘jabbariyah’. Karena keduanya bentuk penyimpangan dari aqidah juga. Tapi masa modern, adalah bentuk bagaimana penyimpangan dari filsafat, yang digunakan untuk mengeliminasi kebenaran Tuhan. Kebenaran Wahyu.

Kejadian revolusi Perancis, 1789, melambangkan tentang peristiwa yang terjadi. Vox Rei Vox Dei (Suara Raja Suara Tuhan) di eliminasi menjadi Vox populi vox Dei. Disinilah Rosseou melambangkan bahwa kekuasaan tidak lagi ‘duel contract’ dari Tuhan dan dari rakyat. Melainkan sepenuhnya dari rakyat semata. Karena ‘Tuhan digambarkan hanya sebatas pembuat jam belaka’.

Inilah yang diprotes Nietzsche. Dia menggambarkan, manusia modern telah memberhalakan filsafat. Alhasil tidak berhasil menemukan kebenaran. Ernst Junger mengatakan, inilah nihilisme, ketika manusia modern berada pada ‘the last man’. Manusia terakhir. Tentu yang jauh dari fitrah. Para filosof abad 20 ini, Junger, Nietzsche hingga Heidegger tentu mengeluarkan antitesa terhadap filsafat, yang menjadi pondasi lahirnya kapitalisme, positvisme, humanisme, hingga liberalisme.

Dari sinilah sumber kerusakan aqidah. Kerusakan umat manusia yang terberangus dari akar keimanan. Dan jauh dari fitrahnya. Inilah penyakit jaman. Penyakit manusia modern. Ian Dallas (Shaykh Abdalqadir as sufi) menggambarkan dalam kitabnya, The Entire City, perangai manusia yang berpenyakit psikosis, penyakit yang jauh dari fitrahnya. Itulah drama Christoper Marlowe dalam ‘Massacre de Paris’ tentang pembantaian 2000 orang huguenots lebih dalam masa abad pertengahan. itulah bentuk bagaimana manusia berkuasa, yang telah menjadi tiran, melakukan penindasan, karena terkena penyakit di dalamnya. Dan pengobatan atas penyakit itu, kata Shaykh Abdalqadir as sufi, haruslah dilakukan menyeluruh. Sumber penyakit itulah batiniah. Nafs yang mengendalikan qalbu.

Dari sinilah aqidah menjaadi titik kunci untuk lepas dari segala penyakit jaman. Dan problematika itu disembuhkan dengan mengembalikan aqidah, sebagai pondasi Dinul Islam. Dari aqidah itulah syariat bisa tumbuh kuat. Dan ma’rifatullah bisa tercapai sebagai buahnya.

Karena kemusyrikan telah menjadi sistemik. Inilah yang melahirkan riba dan segala bentuk bid’ah menjadi seolah dihalalkan.

Irawan Santoso

Mengapa Nietzsche menulis ‘God is dead?’ Reviewed by on . Nietzsche berkata, “Tuhan telah mati”. Ini sebuah metafor. Dari Nietzsche, filosof abad 19. Dari pergulatan Nietzsche tahun 1888. Dia menuliskan tentang “Twilig Nietzsche berkata, “Tuhan telah mati”. Ini sebuah metafor. Dari Nietzsche, filosof abad 19. Dari pergulatan Nietzsche tahun 1888. Dia menuliskan tentang “Twilig Rating: 0
scroll to top