Home » Featured » Dahsyatnya Buku Ian Dallas, ‘The Shield of Achilleus’

Dahsyatnya Buku Ian Dallas, ‘The Shield of Achilleus’

Dr. Ian Dallas menerbitkan buku ‘The Shield of Achilleus’. Pesan kepada umat manusia kini. Berkisah tentang watak manusia kuno, manusia era modern, dan manusia masa depan. Penting dibaca generasi sekarang.

Menyibaklah pada Goethe (1749-1832), pujangga kesohor Jerman masa modern. Kala Eropa keranjingan filsafat. Ketika Eropa mengambil filsafatnya mu’tazilah. Rasionalitas mewabah. Corrupting the youth jadi rujukan. Tapi Goethe tak terperangah. Dia tetap berpendirian. Goethe mencoba menyadarkan Eropa. Hingga dia lahir sebagai seorang muslim, mengakui keesa-an Allah Subhanahuwataala.

Di masa pencariannya, Goethe menorehkan kisah tentang Iphigenia. Gadis mungil dari kisah Yunani klasik. Masa jaman perunggu. Iphigenia, putri semata wayang Raja Agamemnon. Raja Sparta. Yang dikisahkan apik Homerius. Kitabnya tersohor ‘The Illiad’. Hollywood menyambarnya dengan membuat kisah ‘Troy’. Perjalanan menarik dengan bumbun percintaan. Seolah itulah penyebab perang Troy. Padahal bukan. Karena Homer mengkisahkan tajam. Tentang perang rasionalitas versus ke-Ilahi-an. Tentang Troya yang terkesima pada dewa-dewa. Tentang Achilles yang menanamkan kekesatriaan. Dari sinilah Troy menjadi kisah membahana. Memetik pesan Homer yang luar biasa.

Tentang kemalangan gadis mungil Iphigenia. Goethe menggambarkannya dalam. Tragedi kemanusiaan di depan mata. Gadis kecil yang harus dikorbankan, demi mitos tentang dewi kahyangan. Karena sekitar 1000 kapal perang Agamemnon tak bisa menyeberang menuju Troya. Angin tak berhembus, setelah beberapa tahun. Kapal-kapal tersambat di pelabuhan. Tanpa angin, tanpa penggerak menuju peperangan. Agamemnon tergagap oleh nafsunya. Perang adalah tujuannya. Dan ini telah ditentang Achilles, sang Putra Paleus. Di depan banyak orang, Achilles tak segan mengatakannya, “Putra Atreus yang terhormat, manusia paling rakus, kami tak akan memberikan hadiah pengganti….!” demikian hardik Achilles. Dia tak ragu. Raja serakah itu dihardik-nya. Dilawannya. Achilles mempertahankan kekesatrian-nya. Demi menjaga fitrah.

Agamemnon memang maniak kekuasaan. Wilayahnya telah melebar melewati Sparta. Kini disebut Yunani. Ian Dallas, ulama kesohor dan penulis agung Eropa masa kini, mengkisahkan tentang hal itu. Kisah itu tentang manusia belum mengenal ‘nasionalisme’. Karena manusia hanya mengenal bangsa. Dan bangsa itu diketahui dari bahasanya. “Ketika seseorang berbahas Spanish, maka dia adalah bangsa Spanyol,” tulisnya dalam kitabnya terbaru, “The Shield of Achilleus”. Kini manusia modern sebaliknya. Terkotak-kotak oleh nation state, buah rennaisance di Eropa. Sebelum modernitas merebak. Dan itu kontra dengan fitrah. Kisah Achilles memberi banyak pesan. Kebebasan (freedom), bukan ‘liberty’ –seperti kata Dallas–, lebih bisa dimengerti. Karena manusia modern kehilangan makna “freedom.” Dan Dallas menggunakan kata ‘freiheit’, bahasa Jerman. Itu lebih mulia ketimbang ‘Libertad’. Karena masa Revolusi Perancis, 1789, –dimulainya era state– kata itu menjadi mitos tentang kebebasan. Padahal bukan. “Liberte, egalite, fraternite,” jadi mitos tentang kebebasan semu. Kebebasan dalam penjara bankir.

Kisah Achilles memberi banyak pesan. ‘Freedom’ lebih menggema dalam fitrah. Karena bangsa melekat pada bahasa. Achilles berbahasa Yunani. Sementara bangsa Troy dengan bahasanya. Itu meletakkan perbedaan bangsa. Sederhana saja.

Achilles tak segan memberi arahan pada Raja yang lalim. Agamemnon terlalu memenuhi ambisinya. Raja itu sibuk dengan nafsunya. Achilles tak berperang demi dia. Melainkan demi fitrah. Perang Troy, buah ambisi Agamemon yang luar biasa. Tapi tersulut oleh nafsu Paris, yang menculik istri Manelous. Adik Agamemon. Alhasil nafsu bertemu nafsu. Alasan itu yang membuat Agamemnon punya alibi. Seribu kapal perang harus dilayarkan menuju Troy. Karena Paris putra Priam, Kaisar Troy, melanggar fitrah. Helen yang cantik luar biasa, memikat nafsu Paris untuk memilikinya. Perang Troy pun berkubang. Darah dan ambisi bercampur di sana. Tapi Achilles tetap memberi tunjuk ajar tentang kekesatriaan masa kuno.

Achilles semula tak berniat pergi perang. Tapi Patroclus, terus membujuknya. Dialah yang diutus raja Athena. Karena Achilles merasa itu bukan perangnya. Terlebih Achilles, Raja Pthya, bukan tunduk pada Agamemnon. Beberapa kali perang, Achilles tak berperang demi raja serakah itu. Dia hanya menjalankan fitrah. Tentang kekestriaan yang wajib dilestarikan.

Tapi hampir seribu kapal perang telah disiapkan, menunggu tahunan angin tak juga berhembus. Illiad-nya Homer menceritakan, itu buah Dewi Themis tak memberikan angin. Themis ini yang kini dipuja sebagai dewi keadilan. Patungnya ditutup kain hitam. Dipuja sebagai pemberi keadilan. Padahal, simaklah kekejiannya dalam Illiad. Themis dianggap tak memberi angin. Themis (dewi Diana), meminta sesembahan. Dukun-nya Agamemnon memberi tafsir. Themis meminta darah anak semata wayang Agamemon. Itulah Iphigenia, gadis mungil yang tengah berlari-lari bermain di pinggir pantai.

Agamemon dalam dilema. Antara darah anaknya atau perang demi ambisinya. Tapi nafsu kekuasaan melebihinya. Agamemnon menyuruh tentang mengambil Iphigenia. Gadis kecil yang centil. Goethe pun memberi puisi. Tentang mengapa Agamemon mengorbankan Iphigenia. Tentang bagaimana sang Ayah berani mengorbankan nyawa anaknya, demi ambisi kekuasaan. Yang di masa modern kini jamak terjadi.

Goethe membuat drama, kisah diambilnya Iphigenia hingga disembelih diatas sebuah batu di pinggir pantai. Disaksikan ayahnya, Raja Sparta yang perkasa. “Apa aku harus mempercepat nasib buruk yang mengancamku?” kata Iphigenia pada Arkas, dalam dialog drama Goethe.

Sepenggal kisah, Iphigenia pun disembelih. Nyawanya meregang. Themis dikatakan keriangan. Entah mengapa, manusia kini memujanya sebagai dewi keadilan. Patungnya, dipajang dikantor advokat. Dipajang di ruangan jaksa, hakim sampai hakim agung. Ini bukti manusia modern tak paham, mengapa Themis disebut dewi keadilan? Padahal dia penuh kekejaman, dalam kisah yang termuat dalam Illiad. Bagaimana sekuelnya dia disebut dewi keadilan?

Sejumput kisah, begitu nyawa Iphigenia meregang, angin pun berhembus. Seribu kapal perang Agamemnon langsung berlayar. Menuju Troy. Perang abad klasik itu pun berlangsung. Perang Troy hingga memunculkan peristiwa ‘kuda Troya’.

Semudah mengambil pasir, pasukan Achilles, merebut pantai Troya. Achilles memenggal patung Apollo, dewa kepercayaan bangsa Troy. ‘Jika dewa-dewa itu benar, maka dia cemburu pada manusia,” katanya tanpa ragu. Achilles menentang kedigdayaan dewa dewi. Walau Homer masih menceritakannya. Kuil Appolo dihabisi oleh Achilles. Karena tak setuju kuil itu. Mau tahu bagaimana bentuk kuil itu? Longoknya gedung Supreme of Court di Washington DC. Bentuknya sama. Sampai Mahkamah Konstitusi (Constitutional Court) di Jakarta. Gedungnya menyerupai kuil Appolo. Dewa yang dipenggal patungnya oleh Achilles.

Disanalah tersebut kisah kemenangan pertama Sparta. Rampasan perang pun dibagi. Seorang bangsawan Troy, Briseis, tertawan. Menjadi rampasan perang Achilles.

Agamemnon mendarat di pantai Troya. Selepas Achilles membebaskannya. Raja-raja Yunani berkumpul. Memberi rampasan perang pada Agamemnon. Tidak dengan Achilles. Dia marah dan menghinanya, segampang membuat tumpukan pasir dipantai. Raja-raja Yunani mencoba merayu Achilles. Agar tak bertentangan dengan Agamemnon. Tapi Achilles punya dasar. Dia berperang bukan untuk raja itu. “Orang itu seolah menjadi raja kita,” kata Agamemnon geram tentang Achilles.

Agamemnon berencana merebut Briseis. Achilles makin marah. Hampir mencabut pedangnya. Karena merasa itu hak rampasan perangnya. Agamemnon mentitahkan memberi sesembahan pada dewa, beberapa ekor sapi dan kambing di pinggir pantai. Tapi Achilles tak mengikutinya. Karena dia berbeda. Dia masih marah. Tak setuju mengapa raja-raja Yunani tunduk pada Agamemnon. Dia mencelanya, “Kau manusia bermuka anjing dan berhati rubah, tidak punya keberanian untuk terlibat langsung dalam peperangan. Kau selalu menghindari kematian. Kau merasa lebih baik merampok hadiah orang-orang yang berselisih denganmu. Kau menekan rakyatmu karena mereka lemah…kau akan menyesal!!” teriak Achilles pada Agamemnon. Raja itu hanya diam. Tak berani melawan.

Achilles membuang tongkat kerajaannya ke lantai. Tapi dia mempertahankan shield kerajaanya. Itu pertanda dia mempertahankan kewibawaan kerajaannya. Tentang Achilles yang bersifat dan bersikap kesatria. Inilah yang memetik Ian Dallas memungut lagi pelajaran dari Achilles.

Dallas mengeluarkan kitab, “The Shiels of Achilleus.” Kitab yang diluncurkan 2019 ini. Tentang sikap kesatria Achilles yang layak ditiru manusia modern. “Dia memahami makna akan eksistensinya, hidup dalam ragam dimensi pribadi, keluarga, dan persahabatan yang penuh gairah, hingga keterlibatan pentingnya dalam peperangan,” tulis Dallas penuh gairah.

Dallas menggambarkan tentang bagaimana Achilles memilih takdirnya. Semula, Achilles memilih apakah harus mati muda dan penuh kejayaan. Atau hidup sampai menua dengan kerabat dan kerajaannya yang tenteram. Tapi Achilles memilih takdirnya. Kemudian, saat Achilles meninggalkan pasukan Sparta, karena tak setuju dengan Agamemnon. Tapi Patroclus, mati di tangan Hector, pangeran Troy. Hukum saat itu, berlaku qisas. Darah dibalas darah. Hukum yang terus bersifat fitrah. Itulah membuat Achilles dalam pilihan kedua. Membalas kematian kerabatnya, atau kehilangan kehormatannya. “Dan tentu ia memilih hal yang kita semua sudah ketahui bersama,” tulis Dallas.

Dari sini Dallas memberi pesan. “Apa yang ingin kita katakan mengenai pendirian seorang Achilleus adalah sebagai berikut: inti utamanya adalah bagaimana ia amat menghormati dirinya sendiri, atau dapat anda katakan, harga dirinya. Inilah titik pusat mutlak atas kemenjadian dirinya. Inilah yang frasa Shakespearean katakan dalam karya drama Hamlet: “Di atas segala sesuatu, bersikap jujurlah pada dirimu sendiri, dan jagalah itu di malam dan siangmu. Maka engkau tak akan pernah kemudian dikelirui oleh siapapun”. Karenanya, bersikap jujur pada dirimu sendiri adalah sama nilainya dengan jujur terhadap segala hal.”

Dari kisah Achilles ini, Dallas membawa pada penyadaran akan manusia modern. ketika dalam kungkungan ‘libertad’, manusia modern tak mampu membuat pilihan. Karena bersikap pasif pada keadaan. Sementara Achilles berkali-kali memberi contoh tentang harga diri. Tentang kewibawaan seorang kesatria. Itu merubah nasib seseorang manusia. Dan merubah nasib manusia.

“Maka, pertanyaannya bukanlah “Apakah manusia menginginkan adanya peradaban teknikal?.” Melainkan “Mungkinkah peradaban teknikal dapat menoleransi manusia?,” ujar Dallas lagi.

Shaykh Abdalqadir as sufi 2018Achilles memberi banyak pengajaran. Dallas memberi ruang tentang pengajaran itu. Kitab Dallas ini memberikan kata kunci. Karena dia memberikannya dalam tiga sekuel kisah: manusia kuno, manusia modern, dan manusia masa datang. Ini berkaitan dengan kitab-kitab politiknya yang luar biasa. Para muridnya menyebutnya sebagai ‘The Political Writings”. Empat kitab politik Ian Dallas yang mampu mengubah masyarakat dunia. Tentang kisah ‘Time of The Beoduin’, The Engine of the Broken World, ‘The Interim is Mine,” dan “The Entire City.” Keempat kitab inilah memberi tunjuk ajar tentang perilaku manusia kuno, manusia modern dan manusia yang datang. Manusia yang mampu membaca masa interim—masa peralihan kekuasaan dan peradaban. Manusia yang mampu membaca tanda-tanda jaman. Inilah ilmu yang diberikan Dallas. Sebagai ulama besar asal Eropa, dia telah memberikan banyak warisan. Karena tak semua pantas disebut ‘ulama.’ Sebab ‘ulama’ berasal dari kata ‘a lama’ artinya ‘tanda-tanda’. Dan Dallas –Shaykh Abdalqadir as sufi—telah memberi tanda-tanda jaman. Tentang perubahan jaman, masa interim, yang akan kembali melahirkan new nomos. Masyarakat baru, ‘the entire city’, yang disebut dengan masyarakat fitrah. Itulah Madinah al Munawarah.

Dallas memberikan ‘The Shiled of Achilleus’ ini sebagai pengantarnya. Menuju memasuki pergantian jaman. Menuju Trojan War masa modern. Ketika kemunculan new Achilles, menghardik penguasa serakah, dan menegakkan fitrah.

 

Irawan Santoso Shiddiq   

 

 

 

Dahsyatnya Buku Ian Dallas, ‘The Shield of Achilleus’ Reviewed by on . Dr. Ian Dallas menerbitkan buku ‘The Shield of Achilleus’. Pesan kepada umat manusia kini. Berkisah tentang watak manusia kuno, manusia era modern, dan manusia Dr. Ian Dallas menerbitkan buku ‘The Shield of Achilleus’. Pesan kepada umat manusia kini. Berkisah tentang watak manusia kuno, manusia era modern, dan manusia Rating: 0
scroll to top