Home » Headline » Ada Kejahatan Jabatan Pada Tragedi Kemanusiaan di Danau Toba

Ada Kejahatan Jabatan Pada Tragedi Kemanusiaan di Danau Toba

Petugas saat melakukan pencarian KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba

Petugas saat melakukan pencarian KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba

Thejakartatimes- Pada hari Senin (18/6/2018) sore, masyarakat dihebohkan dengan tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba. Kapal yang berangkat dari Simarindo, Kabupaten Samosir itu karam saat berangkat menuju Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Korban hilang menurut data berjumlah 164 jiwa. Cuaca buruk dan over kapasitas diduga menjadi penyebab tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun ini

Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Brigadir Jenderal TNI Nugroho Budi Wiryanto mengatakan posisi mayat ada yang telentang dan tengkurap. Begitu juga dengan sepeda motor dan material kapal. Untuk posisi jenazah berada di kedalaman 450 meter. Sementara untuk kapal berada di kedalaman 420 meter dengan suhu sangat dingin.

“Suhu di bawah sangat dingin. Yang jelas jenazah tidak membusuk,” ujarnya saat di Dermaga Tigaras, Kabupaten Simalungun.

Akibat musibah ini, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Samosir berinisial NS dipanggil sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Tiga Ras, Kabupaten Simalungun
polisi menduga, NS lalai dalam menjalankan tugas pengawasan sehingga KM Sinar Bangun yang melanggar aturan keselamatan tetap beroperasi sampai menimbulkan kecelakaan yang menyebabkan kematian

Selain NS ada empat tersangka lain dalam kasus kecelakaan kapal penumpang tersebut, yakni nakhoda KM Sinar Bangun berinisial TS, pegawai honor Dishub Samosir berinisial KN yang menjadi anggota Kepala Pos Pelabuhan Simanindo, Samosir, pegawai Dishub Samosir berinisial FP, dan Kabid Kepala Bidang Angkutan Sungai dan Danau Perairan Dishub Samosir berinisial RD.

 

Kejahatan Jabatan

Terkait musibah KM Sinar Bangun, kritik keras dilontarkan pengacara asal Jakarta, Andar M Situmorang. Pengacara ini mengatakan Menhub Budi Karya bisa dipidana karena sudah melakukan kejahatan jabatan dengan cara melakukan pembiaran hingga mengakibatkan hilangnya seratusan WNI korban KM Sinar Bangun.

“ Ini karena Menhub tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Antara lain memeriksa izin operasional berlayar kapal motor baik di laut, sungai, dan danau di NKRI ini. Menhub telah dengan sengaja melakukan pembiaran pidana atau pembunuhan berencana diancam pidana penjara dimaksud dalam Pasal 421 KUHP,” urainya.

Untuk itu GACD minta presiden memecat menhub dan diproses hukum. “Kalau di Jepang menterinya sudah harus bunuh diri. Ini masih ringan, mengundurkan diri atau dipecat,” kata Andar.

“Contoh saja tagar lawan politik Jokowi. Tol macet minta presiden ganti atau ganti presiden. Lalu kalau sampai seratusan nyawa hilang…, menurut saya ini sudah melebihi korban teroris! Ini sudah harus ganti menteri! Menhub Budi Karya harus dipidana!” katanya.

Penghentian Sementara Pencarian

Andar juga menyebut, semua pihak terkait harus bertanggung jawab dunia dan akhirat, terkait penghentian pencarian sementara korban KM Sinar Bangun. Bahkan menurut advokat kelahiran Urat Samosir ini, penghentian sementara di saat masih ada korban berjuang untuk hidup di tengah danau Toba, adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan sangat patut untuk dibawa ke ranah hukum.

“Kita tidak tahu siapa yang memerintahkan penghentian sementara itu. Harus ada klarifikasi soal ini. Apakah benar sempat dihentikan sementara atau tidak. Tapi yang jelas, apabila penghentian pencarian itu benar dilakukan hanya beberapa jam pasca-kapal tenggelam, berarti masih sangat mungkin ada korban hidup, tapi dengan sengaja dibiarkan. Ini biadab dan tak berperikemanusiaan,” tegasnya.

Alasan Cuaca Bisa Dipertanyakan

Soal alasan cuaca dan gelap karena malam, itu menurut Andar, adalah alasan yang masih sangat bisa dipertentangkan. “Soal cuaca saya katakan, itu harus diuji di pengadilan. Sebab saat ini ada beredar video yang diambil langsung dari kapal yang sudah terbalik di mana masih banyak korban hidup berjuang untuk bertahan. Biar nanti pengadilan yang memutuskan, apakah alasan itu bisa dibenarkan,” tandasnya.

“Mengenai alasan gelap, ini lebih konyol lagi. Di wilayah wisata yang mengandalkan keindahan danau yang artinya ada resiko kecelakaan danau baik siang atau malam, kenapa tidak ada persiapan untuk hal semacam ini?” tanyanya.

Andar juga menyinggung soal kondisi pelayaran di Danau Toba yang menurutnya sangat semrawut. “Belum lagi soal kondisi kapal di Danau Toba, yang secara umum sudah diketahui tidak ada sama sekali syarat yang dipenuhi soal keselamatan. Juga pengaturan pelayaran dan lainnya. Semua yang berkaitan dengan ini harus bertanggung jawab,” tandas Andar.

“Saya katakan, mereka harus tanggung jawab atas semua nyawa yang sudah tiada akibat musibah ini. Mungkin mereka akan mengatakan, nyawa di tangan Tuhan. Tapi mereka juga harus ingat, bahwa Tuhan memberikan manusia kecerdasan untuk bertahan hidup dan untuk membantu orang lain. Apa itu sudah dipergunakan?” pungkas Andar seraya menyebut  Hotman Paris jangan omong doang (omdo).

“ Jangan cari panggung di atas korban kapal danau Toba,” tukas Andar dengan nada tinggi.(AS/RED)

Ada Kejahatan Jabatan Pada Tragedi Kemanusiaan di Danau Toba Reviewed by on . Petugas saat melakukan pencarian KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba Thejakartatimes- Pada hari Senin (18/6/2018) sore, masyarakat dihebohkan dengan te Petugas saat melakukan pencarian KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba Thejakartatimes- Pada hari Senin (18/6/2018) sore, masyarakat dihebohkan dengan te Rating: 0
scroll to top